Adat Melayu Jambi

Sekar & Fajar — adat Melayu di Pendopo Seloko

Berarak diiringi kompang, pelaminan kuning keemasan, dan 450 tamu di halaman pendopo. Adat penuh tanpa terburu-buru.

Sekar & Fajar — adat Melayu di Pendopo Seloko
Pasangan
Sekar & Fajar
Lokasi
Kota Jambi
Tanggal
16 Agustus 2026
Jumlah tamu
450 orang

Sekar dan Fajar sepakat sejak awal: kalau harus memilih antara pelaminan yang megah dan prosesi adat yang utuh, mereka memilih yang kedua. Keputusan itu menentukan segalanya — mulai dari pemilihan venue sampai jam mulai acara.

Pendopo Seloko dipilih karena halamannya memungkinkan prosesi berarak dilakukan sungguh-sungguh, bukan sekadar simbolis sepanjang sepuluh meter. Rombongan pengantin laki-laki berangkat dari rumah keluarga di Telanaipura, dan tiba diiringi kompang serta tari sekapur sirih yang disambut di gerbang.

Kuning keemasan, bukan emas

Palet warnanya berangkat dari kain songket keluarga: kuning keemasan yang tenang, bukan emas mengilap. Griya Dekor Jambi menahan diri untuk tidak menambahkan terlalu banyak elemen — pelaminan dibiarkan melebar mengikuti bentuk pendopo, dengan ukiran kayu asli bangunan sebagai latar, bukan ditutupi backdrop.

“Kami hanya menambah cahaya dan bunga. Bangunannya sudah cantik dari sananya, tugas kami tidak menutupinya.”
— Griya Dekor Jambi

Rundown yang memberi napas

Akad digelar pukul delapan pagi, resepsi baru dimulai pukul sebelas. Jeda tiga jam itu terasa boros di atas kertas, tapi memberi ruang bagi keluarga untuk beristirahat, dan bagi tim dokumentasi untuk mengambil sesi keluarga tanpa berdesakan. Tidak ada satu pun bagian acara yang harus dipotong karena kehabisan waktu.

Catering memakai gubugan dengan delapan titik, menyebar tamu ke seluruh halaman alih-alih menumpuk di satu antrean. Menu Melayu Jambi jadi porosnya — tempoyak ikan patin, gulai tepek ikan, dan nasi minyak yang habis sebelum acara berakhir.

Dokumentasi Sekar & FajarDokumentasi Sekar & Fajar

Cerita lainnya

Semua inspirasi →